1.1 Latar Belakang Penelitian
Pergantian kepemimpinan dalam jabatan strategis kenegaraan, terutama di sektor ekonomi, selalu menarik perhatian pasar, akademisi, dan publik. Di Indonesia, posisi Menteri Keuangan (Menkeu) memiliki peran krusial sebagai penentu kebijakan fiskal, penjaga stabilitas makroekonomi, dan pengelola keberlanjutan utang negara. Keputusan yang diambil oleh Menkeu tidak hanya memengaruhi anggaran tahunan, tetapi juga membentuk ekspektasi investor dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Pada tanggal 8 September 2025, Indonesia menyaksikan pelantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menkeu baru, menggantikan sosok yang memiliki kredibilitas fiskal yang kuat di mata internasional. Transisi ini segera menimbulkan diskursus publik yang tajam. Di satu sisi, Menkeu baru membawa klaim optimis mengenai pertumbuhan ekonomi yang cerah, menargetkan 6-8 persen. Di sisi lain, optimisme ini secara frontal ditentang oleh pandangan dari ekonom senior, Ferry Latuhihin, yang telah lama mengenal Menkeu baru. Kritik Ferry tidak hanya meragukan kapasitas kepemimpinan (“bukan orang yang tepat”), tetapi juga memproyeksikan skenario ekonomi yang jauh lebih suram, yaitu stagnasi sekuler dan potensi resesi dalam satu tahun.
Kontradiksi tajam antara klaim resmi (optimisme 6-8%) dan prediksi akademis (stagnasi/resesi) menciptakan kondisi yang disebut Ketidakpastian Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy Uncertainty) yang tinggi. Ketidakpastian ini berpotensi merusak kepercayaan investor, memicu volatilitas pasar keuangan, dan pada akhirnya, menghambat investasi yang diperlukan untuk mencapai target pertumbuhan yang ambisius. Isu fundamental yang dipertanyakan adalah: apakah stabilitas dan keberlanjutan fiskal Indonesia dapat dipertahankan ketika kredibilitas dan arah kebijakan kepemimpinan baru dipertanyakan sejak awal.
Pergantian Menkeu bukan sekadar pergantian personel, melainkan potensi perubahan paradigma pengelolaan fiskal. Jika kebijakan di bawah kepemimpinan baru condong pada pendekatan yang lebih populist atau unsustainable demi mencapai target pertumbuhan yang tidak realistis, risiko fiskal, terutama yang terkait dengan rasio utang dan defisit anggaran, dapat meningkat tajam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris dan mendalam validitas klaim dan kritik tersebut, serta menganalisis dampak aktual dari transisi kepemimpinan ini terhadap indikator makroekonomi utama Indonesia.
1.2 Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang kontradiktif dan isu fundamental mengenai keberlanjutan fiskal, masalah penelitian utama dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Dilema Kredibilitas dan Ekspektasi Pasar: Bagaimana pasar keuangan (investor domestik dan asing) memproses dan merespons ketidaksesuaian antara narasi pertumbuhan optimis Menkeu baru (6-8%) dan prediksi pesimistis dari ekonom independen (resesi/stagnasi), dan apa dampaknya terhadap volatilitas aset dan biaya utang negara?
- Keberlanjutan Fiskal Jangka Panjang: Sejauh mana klaim pertumbuhan 6-8% yang didorong oleh kebijakan Menkeu baru dapat dicapai secara realistis tanpa mengorbankan prinsip keberlanjutan fiskal dan melanggar batas aman rasio utang terhadap PDB yang telah ditetapkan?
- Transmisi Ketidakpastian Kebijakan: Bagaimana policy uncertainty yang dipicu oleh pergantian Menkeu dan kontroversi awal ini ditransmisikan ke sektor riil, khususnya terhadap keputusan investasi korporasi dan konsumsi rumah tangga, yang menjadi penentu utama stagnasi atau resesi?
1.3 Rumusan Masalah (Pertanyaan Penelitian)
Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, penelitian ini merumuskan serangkaian pertanyaan spesifik yang harus dijawab:
- Analisis Event Study: Apakah terdapat anomali return dan yield secara signifikan pada pasar obligasi pemerintah Indonesia (sovereign bonds) dan pasar saham (IHSG) dalam periode sekitar pelantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2025?
- Analisis Debt Sustainability: Apakah proyeksi pertumbuhan PDB riil Indonesia 6-8% yang diklaim Menkeu baru, jika dimasukkan ke dalam model Stochastic Debt Sustainability Analysis (DSA), menghasilkan jalur rasio utang/PDB yang berkelanjutan dibandingkan dengan skenario baseline?
- Analisis Transmisi Makroekonomi: Bagaimana guncangan kebijakan fiskal (diwakili oleh perubahan Menkeu) memengaruhi Indeks Ketidakpastian Kebijakan (EPU) dan ekspektasi inflasi di Indonesia, serta dampaknya terhadap investasi swasta, menggunakan model Structural Vector Autoregression (SVAR)?
1.4 Justifikasi Pemilihan Judul
Judul: Analisis Dampak Pergantian Menteri Keuangan terhadap Stabilitas Fiskal dan Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
- Tingkat Kontroversi dan Urgensi: Judul ini secara tepat menangkap isu sentral dan kontroversial—pergantian Menkeu yang dikritik sebagai “bukan orang yang tepat” dan klaim pertumbuhan yang dianggap tidak realistis—menegaskan urgensi untuk menganalisis dampaknya secara cepat dan mendalam, yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam konteks ini.
- Keseimbangan Fiskal dan Pertumbuhan: Judul ini menyeimbangkan dua dimensi utama dalam kebijakan ekonomi: Stabilitas Fiskal (keberlanjutan utang) dan Prospek Pertumbuhan Ekonomi (target 6-8% vs. risiko resesi). Ini mencerminkan dilema inti yang dihadapi Menkeu baru, yaitu mencapai pertumbuhan tinggi tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal.
- Spesifisitas Kasus dan Waktu: Judul ini terikat pada kasus spesifik Indonesia dan peristiwa pergantian Menkeu 2025, memberikan cakupan yang jelas, terfokus, dan relevan secara kebijakan, berbeda dengan studi umum tentang policy uncertainty.
1.5 Research Gaps (Kesenjangan Penelitian)
Meskipun telah banyak penelitian tentang kredibilitas fiskal dan pergantian elit, terdapat tiga kesenjangan signifikan yang diisi oleh penelitian ini:
- Grup Kontrol Kredibilitas: Studi yang ada umumnya membandingkan kebijakan fiskal antar rezim pemerintahan. Penelitian ini mengisi kesenjangan dengan membandingkan dampak transisi dari Menkeu yang memiliki kredibilitas domestik/internasional tinggi (Sri Mulyani) ke Menkeu baru yang segera dipersepsikan skeptis, menggunakan teknik event study yang presisi pada data high-frequency.
- Eksplisitasi Risiko Stagnasi Sekuler: Kebanyakan studi makro Indonesia fokus pada risiko middle-income trap atau krisis jangka pendek. Penelitian ini secara spesifik mengisi kesenjangan dengan menguji validitas prediksi stagnasi sekuler melalui pemodelan pertumbuhan potensial dan DSA yang menyertakan faktor-faktor struktural yang mungkin diabaikan oleh klaim pertumbuhan 6-8% resmi.
- Asimetri Informasi dan Sinyal Kebijakan: Belum ada penelitian yang memetakan secara kuantitatif asimetri informasi yang ekstrem antara sinyal insider (klaim resmi) dan outsider (kritik ekonom) dan bagaimana asimetri ini memengaruhi risk premium Indonesia, mengisi kesenjangan dalam literatur political economy di Asia Tenggara.
1.6 Novelty (Kebaruan Penelitian)
Penelitian ini menawarkan kebaruan substantif dan metodologis:
- Metode Kombinasi Event Study dan Stochastic DSA: Ini adalah salah satu penelitian pertama yang secara simultan menggunakan event study untuk menangkap respons pasar jangka pendek terhadap transisi Menkeu dan Stochastic DSA untuk menguji keberlanjutan fiskal klaim pertumbuhan jangka panjang (6-8%), memberikan diagnosis yang komprehensif.
- Pembentukan Indikator Sentimen Khusus: Penelitian ini akan mengembangkan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM) Indonesia berbasis Text Mining pada pernyataan publik dan news media pasca-September 2025, dan menguji hubungannya dengan risk premium obligasi, menawarkan indikator leading baru untuk ketidakpastian fiskal di negara berkembang.
- Validasi Prediksi Stagnasi Sekuler: Kebaruan terletak pada validasi hipotesis “stagnasi sekuler” dalam konteks Indonesia melalui modifikasi model pertumbuhan endogen yang memasukkan faktor kualitas kelembagaan dan kredibilitas kepemimpinan baru sebagai variabel penentu produktivitas total faktor (TFP), alih-alih hanya mengandalkan variabel tradisional.
1.7 Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman ilmiah yang objektif dan empiris mengenai dampak pergantian Menkeu dan kontroversi yang menyertainya:
Menganalisis Transmisi Kebijakan: Untuk menganalisis jalur dan kekuatan transmisi guncangan kebijakan fiskal dan ketidakpastian kredibilitas terhadap variabel sektor riil, khususnya investasi swasta dan ekspektasi inflasi, melalui model ekonometri struktural.
Mengidentifikasi Dampak Pasar: Untuk menguji dan mengukur signifikansi statistik dari dampak transisi kepemimpinan Menkeu terhadap volatilitas dan pergerakan yield obligasi pemerintah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar keuangan Indonesia.
Mengevaluasi Keberlanjutan Fiskal: Untuk melakukan evaluasi realistis terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia di bawah skenario pertumbuhan ambisius 6-8% yang diklaim Menkeu baru, menggunakan model Stochastic DSA untuk membandingkan probabilitas risiko utang dengan skenario baseline yang lebih konservatif (prediksi resesi/stagnasi).

Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.