Contoh Disertasi Keuangan

Analisis Dampak Pergantian Menteri Keuangan terhadap Stabilitas Fiskal dan Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

1.1 Latar Belakang Penelitian

Pergantian kepemimpinan dalam jabatan strategis kenegaraan, terutama di sektor ekonomi, selalu menarik perhatian pasar, akademisi, dan publik. Di Indonesia, posisi Menteri Keuangan (Menkeu) memiliki peran krusial sebagai penentu kebijakan fiskal, penjaga stabilitas makroekonomi, dan pengelola keberlanjutan utang negara. Keputusan yang diambil oleh Menkeu tidak hanya memengaruhi anggaran tahunan, tetapi juga membentuk ekspektasi investor dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Pada tanggal 8 September 2025, Indonesia menyaksikan pelantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menkeu baru, menggantikan sosok yang memiliki kredibilitas fiskal yang kuat di mata internasional. Transisi ini segera menimbulkan diskursus publik yang tajam. Di satu sisi, Menkeu baru membawa klaim optimis mengenai pertumbuhan ekonomi yang cerah, menargetkan 6-8 persen. Di sisi lain, optimisme ini secara frontal ditentang oleh pandangan dari ekonom senior, Ferry Latuhihin, yang telah lama mengenal Menkeu baru. Kritik Ferry tidak hanya meragukan kapasitas kepemimpinan (“bukan orang yang tepat”), tetapi juga memproyeksikan skenario ekonomi yang jauh lebih suram, yaitu stagnasi sekuler dan potensi resesi dalam satu tahun.

Kontradiksi tajam antara klaim resmi (optimisme 6-8%) dan prediksi akademis (stagnasi/resesi) menciptakan kondisi yang disebut Ketidakpastian Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy Uncertainty) yang tinggi. Ketidakpastian ini berpotensi merusak kepercayaan investor, memicu volatilitas pasar keuangan, dan pada akhirnya, menghambat investasi yang diperlukan untuk mencapai target pertumbuhan yang ambisius. Isu fundamental yang dipertanyakan adalah: apakah stabilitas dan keberlanjutan fiskal Indonesia dapat dipertahankan ketika kredibilitas dan arah kebijakan kepemimpinan baru dipertanyakan sejak awal.

Pergantian Menkeu bukan sekadar pergantian personel, melainkan potensi perubahan paradigma pengelolaan fiskal. Jika kebijakan di bawah kepemimpinan baru condong pada pendekatan yang lebih populist atau unsustainable demi mencapai target pertumbuhan yang tidak realistis, risiko fiskal, terutama yang terkait dengan rasio utang dan defisit anggaran, dapat meningkat tajam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris dan mendalam validitas klaim dan kritik tersebut, serta menganalisis dampak aktual dari transisi kepemimpinan ini terhadap indikator makroekonomi utama Indonesia.

1.1.1 Kondisi Fiskal Indonesia Pra-2025: Warisan Stabilitas dan Kerentanan

Periode fiskal Indonesia pra-2025 dicirikan oleh upaya gigih mempertahankan disiplin fiskal di tengah guncangan global dan domestik. Kebijakan fiskal didominasi oleh komitmen untuk mematuhi Undang-Undang Keuangan Negara yang membatasi defisit anggaran maksimal 3% dari PDB dan rasio utang maksimal 60% dari PDB. Kepemimpinan sebelumnya secara luas diakui berhasil menjaga rasio utang relatif stabil—sekitar 35-40% dari PDB—meskipun terjadi pelebaran defisit yang signifikan selama penanganan pandemi COVID-19 (yang memicu terbitnya Perppu No. 1 Tahun 2020).

Warisan stabilitas ini sangat berharga: Indonesia memiliki ruang fiskal (fiscal space) yang relatif lebih besar dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Namun, terdapat pula kerentanan struktural yang mengancam. Ketergantungan pada penerimaan dari komoditas, rasio pajak yang relatif rendah (tax ratio), dan beban subsidi energi yang tinggi telah menjadi tantangan kronis. Transisi Menkeu pada September 2025 terjadi tepat ketika Indonesia seharusnya kembali ke aturan fiskal ketat 3% defisit. Oleh karena itu, Menkeu baru mewarisi tugas berat untuk menyeimbangkan kebutuhan pendanaan pembangunan yang besar dengan keharusan konsolidasi fiskal yang ketat. Klaim pertumbuhan 6-8% oleh Menkeu baru secara implisit mensyaratkan peningkatan luar biasa dalam penerimaan negara dan efisiensi belanja, sebuah asumsi yang dipertanyakan mengingat kerentanan struktural yang ada.

1.1.2 Kerangka Teoritis: Kredibilitas Kebijakan dan Time Inconsistency

Kontroversi seputar penunjukan Menkeu baru dapat dianalisis melalui lensa teori kredibilitas kebijakan (policy credibility) dalam ekonomi makro. Kredibilitas mengacu pada sejauh mana agen ekonomi (agents) percaya bahwa pembuat kebijakan akan menepati komitmen yang mereka umumkan.

  • Masalah Time Inconsistency: Dikembangkan oleh Kydland dan Prescott (1977), teori ini menyatakan bahwa pembuat kebijakan sering tergoda untuk menyimpang dari kebijakan optimal yang diumumkan sebelumnya setelah agen ekonomi membentuk ekspektasi. Misalnya, pemerintah mengumumkan kebijakan anti-inflasi, tetapi kemudian tergoda untuk mencetak uang demi stimulus jangka pendek. Di sektor fiskal, hal ini terwujud ketika pemerintah mengumumkan batas defisit, tetapi kemudian tergoda untuk berutang lebih banyak demi proyek populist.
  • Peran Reputasi: Untuk mengatasi masalah time inconsistency, pembuat kebijakan harus membangun reputasi sebagai pihak yang patuh pada aturan. Mantan Menkeu dikenal memiliki reputasi ini, yang bertindak sebagai “jangkar” fiskal. Penunjukan Menkeu baru yang dianggap “bukan orang yang tepat” oleh ekonom senior secara langsung menggerus reputasi institusional, meningkatkan risiko time inconsistency, dan memaksa pasar menuntut risk premium (bunga utang) yang lebih tinggi.
  • Ekspektasi Rasional: Dalam kerangka ekspektasi rasional, para ekonom dan investor tidak hanya melihat kebijakan saat ini, tetapi juga memprediksi tindakan masa depan berdasarkan reputasi dan track record pejabat baru. Kritik Ferry Latuhihin dapat dilihat sebagai sinyal yang membentuk ekspektasi rasional pasar bahwa Menkeu baru mungkin akan memprioritaskan pertumbuhan jangka pendek di atas keberlanjutan fiskal jangka panjang.

1.1.3 Tinjauan Singkat Literatur Terkait Pergantian Elit Ekonomi

Studi akademis telah banyak meneliti dampak pergantian pejabat tinggi (turnover) terhadap kinerja ekonomi, terutama di negara berkembang:

  1. Dampak Kredibilitas Bank Sentral: Sebagian besar literatur fokus pada pergantian gubernur bank sentral, menunjukkan bahwa pergantian yang kontroversial atau penunjukan yang tidak independen dapat menyebabkan kenaikan inflasi dan yield obligasi (Cukierman, 1992). Penelitian ini memperluas kerangka ini ke ranah kredibilitas Menkeu, yang merupakan hal yang relatif kurang dieksplorasi.
  2. Volatilitas Politik dan Pasar: Studi event study di berbagai negara menunjukkan bahwa ketidakpastian politik (termasuk penunjukan kabinet) menyebabkan peningkatan volatilitas pasar saham dan depresiasi mata uang dalam jangka pendek. Penelitian oleh Julio dan Yook (2012) menyoroti bagaimana ketidakpastian yang dipicu oleh pemilihan umum mengurangi investasi korporasi. Penelitian ini akan mengaplikasikan metodologi serupa untuk mengisolasi efek penunjukan Menkeu.
  3. Reformasi Fiskal dan Fiscal Rules: Literatur pasca-krisis finansial global menekankan bahwa fiscal rules (seperti batas defisit 3%) hanya efektif jika dipegang teguh oleh pejabat dengan kemauan politik dan reputasi kuat. Pergantian ke Menkeu yang kurang teruji dapat melemahkan efektivitas aturan ini, bahkan jika aturan tersebut secara formal masih berlaku.

Kesenjangan utama dalam literatur adalah kurangnya analisis yang secara eksplisit menguji konflik sinyal yang ekstrim—klaim pertumbuhan tinggi versus prediksi resesi—yang terjadi segera setelah transisi kekuasaan di institusi fiskal sepenting Indonesia.

1.2 Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang kontradiktif, kerentanan fiskal, dan isu fundamental mengenai keberlanjutan fiskal, masalah penelitian utama dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Dilema Kredibilitas dan Ekspektasi Pasar: Bagaimana pasar keuangan (investor domestik dan asing) memproses dan merespons ketidaksesuaian antara narasi pertumbuhan optimis Menkeu baru (6-8%) dan prediksi pesimistis dari ekonom independen (resesi/stagnasi), dan apa dampaknya terhadap volatilitas aset dan biaya utang negara?
  2. Keberlanjutan Fiskal Jangka Panjang: Sejauh mana klaim pertumbuhan 6-8% yang didorong oleh kebijakan Menkeu baru dapat dicapai secara realistis tanpa mengorbankan prinsip keberlanjutan fiskal dan melanggar batas aman rasio utang terhadap PDB yang telah ditetapkan?
  3. Transmisi Ketidakpastian Kebijakan: Bagaimana policy uncertainty yang dipicu oleh pergantian Menkeu dan kontroversi awal ini ditransmisikan ke sektor riil, khususnya terhadap keputusan investasi korporasi dan konsumsi rumah tangga, yang menjadi penentu utama stagnasi atau resesi?

1.3 Rumusan Masalah (Pertanyaan Penelitian)

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, penelitian ini merumuskan serangkaian pertanyaan spesifik yang harus dijawab:

  1. Analisis Event Study: Apakah terdapat anomali return dan yield secara signifikan pada pasar obligasi pemerintah Indonesia (sovereign bonds) dan pasar saham (IHSG) dalam periode sekitar pelantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2025?
  2. Analisis Debt Sustainability: Apakah proyeksi pertumbuhan PDB riil Indonesia 6-8% yang diklaim Menkeu baru, jika dimasukkan ke dalam model Stochastic Debt Sustainability Analysis (DSA), menghasilkan jalur rasio utang/PDB yang berkelanjutan dibandingkan dengan skenario baseline?
  3. Analisis Transmisi Makroekonomi: Bagaimana guncangan kebijakan fiskal (diwakili oleh perubahan Menkeu) memengaruhi Indeks Ketidakpastian Kebijakan (EPU) dan ekspektasi inflasi di Indonesia, serta dampaknya terhadap investasi swasta, menggunakan model Structural Vector Autoregression (SVAR)?

1.4 Justifikasi Pemilihan Judul

Judul: Analisis Dampak Pergantian Menteri Keuangan terhadap Stabilitas Fiskal dan Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

  1. Tingkat Kontroversi dan Urgensi: Judul ini secara tepat menangkap isu sentral dan kontroversial—pergantian Menkeu yang dikritik sebagai “bukan orang yang tepat” dan klaim pertumbuhan yang dianggap tidak realistis—menegaskan urgensi untuk menganalisis dampaknya secara cepat dan mendalam, yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam konteks ini.
  2. Keseimbangan Fiskal dan Pertumbuhan: Judul ini menyeimbangkan dua dimensi utama dalam kebijakan ekonomi: Stabilitas Fiskal (keberlanjutan utang) dan Prospek Pertumbuhan Ekonomi (target 6-8% vs. risiko resesi). Ini mencerminkan dilema inti yang dihadapi Menkeu baru, yaitu mencapai pertumbuhan tinggi tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal.
  3. Spesifisitas Kasus dan Waktu: Judul ini terikat pada kasus spesifik Indonesia dan peristiwa pergantian Menkeu 2025, memberikan cakupan yang jelas, terfokus, dan relevan secara kebijakan, berbeda dengan studi umum tentang policy uncertainty.

1.5 Research Gaps (Kesenjangan Penelitian)

Meskipun telah banyak penelitian tentang kredibilitas fiskal dan pergantian elit, terdapat tiga kesenjangan signifikan yang diisi oleh penelitian ini:

  1. Grup Kontrol Kredibilitas: Studi yang ada umumnya membandingkan kebijakan fiskal antar rezim pemerintahan. Penelitian ini mengisi kesenjangan dengan membandingkan dampak transisi dari Menkeu yang memiliki kredibilitas domestik/internasional tinggi (Sri Mulyani) ke Menkeu baru yang segera dipersepsikan skeptis, menggunakan teknik event study yang presisi pada data high-frequency.
  2. Eksplisitasi Risiko Stagnasi Sekuler: Kebanyakan studi makro Indonesia fokus pada risiko middle-income trap atau krisis jangka pendek. Penelitian ini secara spesifik mengisi kesenjangan dengan menguji validitas prediksi stagnasi sekuler melalui pemodelan pertumbuhan potensial dan DSA yang menyertakan faktor-faktor struktural yang mungkin diabaikan oleh klaim pertumbuhan 6-8% resmi.
  3. Asimetri Informasi dan Sinyal Kebijakan: Belum ada penelitian yang memetakan secara kuantitatif asimetri informasi yang ekstrem antara sinyal insider (klaim resmi) dan outsider (kritik ekonom) dan bagaimana asimetri ini memengaruhi risk premium Indonesia, mengisi kesenjangan dalam literatur political economy di Asia Tenggara.

1.6 Novelty (Kebaruan Penelitian)

Penelitian ini menawarkan kebaruan substantif dan metodologis:

  1. Metode Kombinasi Event Study dan Stochastic DSA: Ini adalah salah satu penelitian pertama yang secara simultan menggunakan event study untuk menangkap respons pasar jangka pendek terhadap transisi Menkeu dan Stochastic DSA untuk menguji keberlanjutan fiskal klaim pertumbuhan jangka panjang (6-8%), memberikan diagnosis yang komprehensif.
  2. Pembentukan Indikator Sentimen Khusus: Penelitian ini akan mengembangkan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM) Indonesia berbasis Text Mining pada pernyataan publik dan news media pasca-September 2025, dan menguji hubungannya dengan risk premium obligasi, menawarkan indikator leading baru untuk ketidakpastian fiskal di negara berkembang.
  3. Validasi Prediksi Stagnasi Sekuler: Kebaruan terletak pada validasi hipotesis “stagnasi sekuler” dalam konteks Indonesia melalui modifikasi model pertumbuhan endogen yang memasukkan faktor kualitas kelembagaan dan kredibilitas kepemimpinan baru sebagai variabel penentu produktivitas total faktor (TFP), alih-alih hanya mengandalkan variabel tradisional.

1.7 Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman ilmiah yang objektif dan empiris mengenai dampak pergantian Menkeu dan kontroversi yang menyertainya:

  1. Mengidentifikasi Dampak Pasar: Untuk menguji dan mengukur signifikansi statistik dari dampak transisi kepemimpinan Menkeu terhadap volatilitas dan pergerakan yield obligasi pemerintah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar keuangan Indonesia.
  2. Mengevaluasi Keberlanjutan Fiskal: Untuk melakukan evaluasi realistis terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia di bawah skenario pertumbuhan ambisius 6-8% yang diklaim Menkeu baru, menggunakan model Stochastic DSA untuk membandingkan probabilitas risiko utang dengan skenario baseline yang lebih konservatif (prediksi resesi/stagnasi).
  3. Menganalisis Transmisi Kebijakan: Untuk menganalisis jalur dan kekuatan transmisi guncangan kebijakan fiskal dan ketidakpastian kredibilitas terhadap variabel sektor riil, khususnya investasi swasta dan ekspektasi inflasi, melalui model ekonometri struktural.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menguraikan pendekatan, prosedur, dan instrumen yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan dalam Bab I, khususnya mengenai dampak pergantian Menteri Keuangan terhadap stabilitas fiskal dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penelitian ini akan mengadopsi pendekatan kuantitatif ekonometri dengan metodologi campuran yang canggih (mixed-methods ekonometri).

3.1 Jenis dan Lokasi Penelitian

3.1.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif ekonometri dengan desain studi peristiwa (event study) yang diperluas. Desain ini memungkinkan isolasi dampak dari peristiwa non-rutin tunggal (pelantikan Menkeu pada 8 September 2025) terhadap variabel makroekonomi dan pasar keuangan. Selain itu, digunakan pula pemodelan struktural jangka panjang untuk memproyeksikan keberlanjutan fiskal dan menguji risiko stagnasi sekuler.

3.1.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini tidak terikat pada lokasi geografis fisik tunggal, melainkan berfokus pada pasar keuangan dan institusi fiskal Indonesia. Data primer dan sekunder akan dikumpulkan dari sumber-sumber berikut:

  1. Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu): Sebagai sumber data fiskal, utang, dan indikator moneter.
  2. Bursa Efek Indonesia (BEI): Sebagai sumber data pasar saham (IHSG) dan obligasi (high-frequency).
  3. Lembaga Internasional (IMF, Bank Dunia): Sebagai sumber model pertumbuhan dan data global.
  4. Basis Data Media Global/Domestik: Untuk pengumpulan data text-mining guna pembentukan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM).

3.2 Hubungan Antar Variabel

Penelitian ini menganalisis hubungan kausal antara guncangan kepemimpinan fiskal dan kinerja ekonomi melalui tiga set variabel utama, sesuai dengan tiga rumusan masalah:

Set VariabelVariabel Independen (X)Variabel Dependen (Y)Hubungan Hipotesis
I. Event StudyVariabel Dummy Pelantikan Menkeu (X1)Abnormal Return IHSG (Y1); Abnormal Yield SUN (Y2)Kenaikan X1 → Peningkatan Negatif Y1 dan Y2 (Hilangnya Kredibilitas)
II. Keberlanjutan FiskalTarget Pertumbuhan PDB (X2: 6-8%); Variabel Stochastic MakroRasio Utang/PDB (Y3); Probabilitas Debt Distress (Y4)X2 yang tidak realistis → Peningkatan Probabilitas Y4
III. Transmisi MakroIndeks Kredibilitas Menkeu (IKM) (X3); Guncangan Fiskal (SVAR)Investasi Swasta Riil (Y5); Indeks Ketidakpastian Kebijakan (EPU) (Y6)Penurunan X3 → Peningkatan Y6 → Penurunan Y5 (Stagnasi)

3.3 Alat/Perangkat Lunak (Software)

Pengolahan dan analisis data akan mengandalkan perangkat lunak statistik dan ekonometri yang mampu menangani data high-frequency dan pemodelan struktural kompleks:

  1. EViews / Stata: Digunakan untuk analisis ekonometri dasar (regresi OLS, GARCH, pengujian Unit Root) dan implementasi model Structural Vector Autoregression (SVAR) untuk analisis transmisi makroekonomi.
  2. R / Python (dengan library seperti pandas, numpy, Scikit-learn, NLTK): Wajib digunakan untuk proses Text Mining dan Natural Language Processing (NLP) yang diperlukan untuk mengembangkan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM) dari berita dan pernyataan publik.
  3. Matlab / Julia: Diperlukan untuk implementasi model Stochastic Debt Sustainability Analysis (DSA) yang melibatkan ribuan simulasi Monte Carlo untuk memproyeksikan risiko utang probabilistik.

3.4 Cara dan Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah kombinasi dari data Time Series dan High-Frequency yang dikumpulkan melalui metode berikut:

3.4.1 Jenis Data

  1. Data High-Frequency (Harian/Mingguan): Harga penutupan IHSG, yield obligasi pemerintah (SUN) tenor 10 tahun, nilai tukar Rupiah/USD, dan Credit Default Swap (CDS) 5 tahun. Data ini krusial untuk Event Study.
  2. Data Time Series (Kuartalan/Tahunan): PDB Riil, Inflasi, Investasi Swasta Riil, Rasio Utang/PDB, Defisit Anggaran, dan data suku bunga global (Fed Fund Rate). Data ini digunakan untuk SVAR dan DSA.
  3. Data Tekstual (Berita): Puluhan ribu artikel berita dan transkrip pidato/pernyataan publik dari Menkeu baru dan kritik terkait (terutama Ferry Latuhihin) dalam periode 2025-2026. Data ini untuk pembentukan IKM.

3.4.2 Metode Pengumpulan Data

  1. Metode Dokumentasi dan Kompilasi: Pengumpulan data makroekonomi dan fiskal dari laporan resmi BI, Kemenkeu, dan Badan Pusat Statistik (BPS).
  2. Data Scrapping dan API Keuangan: Pengambilan data high-frequency pasar keuangan dari terminal data (misalnya Bloomberg, Refinitiv) atau API bursa.
  3. Text Mining Otomatis: Menggunakan skrip Python untuk mengumpulkan data tekstual dari basis data berita (misalnya LexisNexis, arsip media lokal/global) dan melakukan pra-pemrosesan data.

3.5 Metode Analisis dan Uji Statistik

Penelitian ini menggunakan tiga metode analisis utama yang terpisah namun terintegrasi untuk menjawab ketiga rumusan masalah.

3.5.1 Metode I: Event Study (Untuk Rumusan Masalah 1)

Tujuan: Mengukur dampak pasar jangka pendek dari pelantikan Menkeu (8 September 2025).

  1. Definisi Jendela Waktu: Jendela peristiwa (T1​) ditetapkan 1 hari sebelum hingga 1 hari setelah pengumuman. Jendela estimasi (T0​) ditetapkan 120 hari sebelum T1​.
  2. Perhitungan Normal Return: Digunakan Model Pasar (Market Model) atau Model Risiko dan Imbal Hasil Aset Modal (Capital Asset Pricing Model – CAPM) untuk memprediksi return IHSG dan yield SUN yang seharusnya terjadi.

E[Ri,t​]=αi​+βiRm,t​+ϵi,t

  • Perhitungan Abnormal Return (AR): ARi,t​=Ri,t​−E[Ri,t​]
  • Perhitungan Cumulative Abnormal Return (CAR): Penjumlahan AR selama periode pengujian. Uji Signifikansi dilakukan pada CAR untuk menentukan apakah pasar bereaksi negatif secara statistik.

3.5.2 Metode II: Stochastic Debt Sustainability Analysis (DSA) (Untuk Rumusan Masalah 2)

Tujuan: Menguji keberlanjutan fiskal di bawah klaim pertumbuhan 6-8%.

  1. Pemodelan Stochastik: Variabel makroekonomi utama (g, r, nilai tukar, dan primary balance) dimodelkan sebagai proses stochastic (misalnya, Vector Autoregressive – VAR atau proses AR(1)) berdasarkan data historis dan proyeksi.
  2. Simulasi Monte Carlo: Dilakukan minimal 10.000 simulasi untuk memproyeksikan rasio Utang/PDB (dt+1​) selama periode 10 tahun ke depan, menggunakan persamaan dinamika utang:

dt+1​=dt​[(1+gt​)(1+rt​)​]−pt​+[1+gt​1+rt​​]dt​(Δet​)

(Keterangan: d = rasio utang; r = suku bunga; g = pertumbuhan; p = surplus primer; e = depresiasi nilai tukar)

  • Uji Probabilitas: Dihitung probabilitas (persentase simulasi) di mana rasio Utang/PDB melanggar ambang batas yang ditetapkan (misalnya, 60% dari PDB atau ambang batas fiscal rule domestik). Hasil DSA pada skenario 6-8% dibandingkan dengan skenario stagnasi/resesi (sesuai kritik).

3.5.3 Metode III: Structural Vector Autoregression (SVAR) (Untuk Rumusan Masalah 3)

Tujuan: Menganalisis mekanisme transmisi dari guncangan kebijakan fiskal (IKM) ke investasi swasta.

  1. Penciptaan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM): Menggunakan NLP/Text Mining (analisis sentimen) pada data berita untuk mengukur frekuensi dan intensitas sentimen negatif yang terkait dengan Menkeu baru. IKM ini digunakan sebagai proksi shock kredibilitas.
  2. Pemilihan Variabel SVAR: Model SVAR akan mencakup variabel: IKM/Guncangan Fiskal; Investasi Swasta Riil; EPU Index; dan Variabel Kontrol (misalnya, suku bunga BI, PDB Global).
  3. Identifikasi Struktural: Guncangan kebijakan fiskal (IKM) akan diidentifikasi menggunakan restriksi Cholesky Decomposition atau restriksi sign (sesuai teori Ekonomi Politik) untuk memastikan bahwa guncangan IKM memengaruhi variabel makro lainnya dengan jeda waktu.
  4. Analisis Fungsi Respon Impuls (Impulse Response Function – IRF): Digunakan untuk melacak dampak IKM negatif terhadap Investasi Swasta dan EPU Index selama periode waktu tertentu, menguji hipotesis risiko stagnasi sekuler.

3.6 Metode Uji Statistik dan Kualitas Data

3.6.1 Uji Kualitas Data Time Series

  1. Uji Stasioneritas: Menggunakan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) atau Phillips-Perron (PP) pada semua variabel time series untuk menghindari spurious regression.
  2. Uji Kointegrasi: Jika variabel tidak stasioner pada level (I(1)), digunakan uji Johansen Cointegration sebelum SVAR/VECM untuk memastikan adanya hubungan jangka panjang yang stabil.

3.6.2 Uji Kualitas Model Ekonometri

  1. Uji Normalitas Residual: Untuk memastikan asumsi regresi (digunakan uji Jarque-Bera).
  2. Uji Homoskedastisitas dan Non-Autokorelasi: Untuk memverifikasi keandalan estimasi (digunakan uji Breusch-Godfrey dan White Test).
  3. Uji Stabilitas Model: Untuk model SVAR, dilakukan uji stabilitas akar Inverse Roots of the AR Characteristic Polynomial untuk memastikan model memenuhi syarat stabilitas.

3.7 Metode Lainnya (Analisis Pendukung)

3.7.1 Analisis Pertumbuhan Potensial

Sebagai pendukung DSA, akan dihitung Pertumbuhan Potensial PDB Indonesia menggunakan metode Produksi Fungsi Agregat (TFP).

  • Dianalisis bagaimana kualitas kelembagaan/kredibilitas (sebagai proksi IKM) memengaruhi Total Factor Productivity (TFP), menguji apakah kritik ekonom (risiko stagnasi) membenarkan penurunan proyeksi TFP dan Pertumbuhan Potensial, membuat target 6-8% semakin tidak realistis.

3.7.2 Analisis Kontras

Hasil dari Event Study dan Stochastic DSA akan diintegrasikan melalui Analisis Kontras. Hal ini memungkinkan penelitian untuk menghubungkan reaksi pasar short-term (dampak event study) dengan konsekuensi fiskal long-term (dampak DSA), memberikan narasi yang koheren mengenai total biaya ekonomi dari pergantian Menkeu yang kontroversial.

Scan the code