BAB VI
KESIMPULAN, SARAN, DAN IMPLIKASI
Bab VI ini menyajikan ringkasan temuan kunci (kesimpulan), memberikan rekomendasi praktis (saran), dan menguraikan kontribusi teoritis serta kebijakan dari penelitian (implikasi). Seluruh pembahasan merujuk kembali pada istilah dan konsep penting yang diuji dalam Bab II hingga Bab V.
6.1 Kesimpulan Penelitian (Sintesis Temuan Kunci)
Kesimpulan penelitian ini secara tegas menyatakan bahwa pergantian Menteri Keuangan pada September 2025 memicu guncangan kredibilitas yang memiliki konsekuensi negatif signifikan pada stabilitas pasar keuangan jangka pendek dan prospek keberlanjutan fiskal jangka panjang Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada konvergensi temuan dari tiga metode analisis:
6.1.1 Kesimpulan Kredibilitas dan Respon Pasar (Menguji H1)
Pasar keuangan, yang bertindak berdasarkan ekspektasi rasional, secara kolektif merespons kritik terhadap Menkeu baru sebagai sinyal yang kredibel mengenai peningkatan risiko fiskal. Hasil Event Study secara statistik memvalidasi Hipotesis H1 dengan menunjukkan peningkatan Risk Premium, yang dibuktikan oleh kenaikan signifikan pada yield SUN 10-Tahun.
- Hubungan Istilah: Lonjakan yield adalah bukti bahwa pasar mendiskon Kredibilitas Kebijakan Menkeu baru. Hal ini mengonfirmasi kekhawatiran terkait Time Inconsistency, di mana investor meragukan komitmen Menkeu untuk menjaga disiplin fiskal dan bukan fokus pada klaim pertumbuhan yang ambisius.
6.1.2 Kesimpulan Risiko Pertumbuhan dan Keberlanjutan Fiskal (Menguji H2)
Analisis Stochastic DSA menyimpulkan bahwa Stabilitas Fiskal Indonesia di bawah Menkeu baru menjadi sangat rentan dan bergantung pada realisasi target pertumbuhan PDB 6-8%.
- Hubungan Istilah: Skenario simulasi membuktikan bahwa kegagalan mencapai target ini akan melanggar Kriteria g>r dan melipatgandakan Probabilitas Debt Distress (Y4) menjadi hampir 50% di bawah skenario Stagnasi Sekuler. Hal ini secara tidak langsung mendukung Hipotesis H2 dan menunjukkan bahwa ketidakpastian kebijakan fiskal (yang akan menekan pertumbuhan) berkorelasi negatif kuat dengan Keberlanjutan Fiskal jangka panjang.
6.1.3 Kesimpulan Transmisi Ketidakpastian dan Sektor Riil (Menguji H3)
Model SVAR menyimpulkan bahwa shock kredibilitas ditransmisikan ke sektor riil melalui peningkatan ketidakpastian.
- Hubungan Istilah: Penurunan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM) (X3) memicu lonjakan Economic Policy Uncertainty (EPU), yang kemudian secara kausal menyebabkan penurunan Investasi Swasta Riil (Y5). Temuan ini memvalidasi mekanisme Hipotesis H3, memberikan bukti empiris bahwa keraguan terhadap kepemimpinan fiskal dapat menjadi pemicu internal risiko Stagnasi Sekuler melalui mekanisme penundaan investasi.
6.2 Saran (Rekomendasi Kebijakan)
Berdasarkan temuan-temuan di atas, penelitian ini mengajukan tiga rekomendasi kebijakan utama yang harus segera diimplementasikan oleh pemerintah dan otoritas fiskal untuk memulihkan kepercayaan dan menstabilkan ekspektasi pasar:
6.2.1 Membangun Kredibilitas Melalui Aksi, Bukan Klaim (Targeting Credibility)
Menkeu baru harus memprioritaskan tindakan konsolidasi fiskal yang terukur dan kredibel daripada sekadar mengulang klaim pertumbuhan 6-8%.
- Saran: Segera umumkan dan laksanakan reformasi pajak struktural (peningkatan tax ratio) dan pemangkasan subsidi energi yang berlebihan (belanja yang tidak efisien) untuk membuktikan komitmen menjaga Stabilitas Fiskal. Aksi nyata ini akan membangun Kredibilitas Kebijakan dan mengurangi kecemasan pasar terhadap Time Inconsistency. Aksi ini secara langsung akan mengurangi Risk Premium yang saat ini dibebankan pada SUN Indonesia.
- Tujuan: Mengirimkan sinyal mahal (costly signal) kepada pasar, yang akan mengurangi sentimen negatif pada IKM dan membatalkan anomali pasar yang terdeteksi oleh Event Study.
6.2.2 Revisi dan Transparansi Asumsi Pertumbuhan (Managing Expectations)
Otoritas fiskal harus meninjau ulang target pertumbuhan 6-8% dan menyajikan proyeksi yang lebih realistis dan transparan, didukung oleh data fundamental.
- Saran: Kemenkeu harus mempublikasikan Analisis Keberlanjutan Fiskal yang terperinci (mirip dengan Stochastic DSA) secara berkala, menampilkan probabilitas risiko utang pada berbagai skenario pertumbuhan. Ini harus mencakup skenario yang konservatif (3.5%-5%) untuk menunjukkan kepada investor bahwa pemerintah telah mengantisipasi risiko Stagnasi Sekuler.
- Tujuan: Mengelola ekspektasi pasar, mengurangi Ketidakpastian Kebijakan (EPU), dan memvalidasi komitmen menjaga Kriteria g>r melalui primary balance yang kredibel, bahkan jika g lebih rendah dari target optimis.
6.2.3 Peningkatan Koordinasi dan Kualitas Kelembagaan (Institutional Focus)
Dibutuhkan koordinasi kebijakan makroekonomi yang lebih erat dan penekanan pada kualitas kelembagaan fiskal.
- Saran: Menkeu harus bekerja sama secara eksplisit dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meredakan kekhawatiran pasar terhadap Dominasi Fiskal. Selain itu, fokus pada penyelesaian proyek-proyek yang secara empiris meningkatkan Produktivitas Total Faktor (TFP), yang akan mendukung Investasi Swasta Riil dan memerangi risiko stagnasi.
- Tujuan: Memperkuat institusi fiskal dan membalikkan jalur transmisi SVAR dengan menjadikan IKM positif → EPU ↓→ Investasi Swasta ↑.
6.3 Implikasi Penelitian
Penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan baik secara akademis maupun kebijakan, melampaui isu transisi kepemimpinan tunggal.
6.3.1 Implikasi Teoritis
- Validasi Kredibilitas sebagai Variabel Endogen: Penelitian ini secara empiris menunjukkan bahwa Kredibilitas Kebijakan bukan hanya asumsi teoritis, melainkan variabel endogen yang dapat diukur (melalui IKM) dan secara kausal memengaruhi makroekonomi riil (Investasi Swasta Y5) melalui mekanisme EPU. Ini memperkaya literatur Ekonomi Politik dengan memberikan bukti yang terukur.
- Integrasi DSA dan Kredibilitas Pasar: Disertasi ini berhasil mengintegrasikan metodologi Event Study (jangka pendek) dan Stochastic DSA (jangka panjang) untuk diagnosis risiko fiskal, membuktikan bahwa biaya jangka pendek (peningkatan yield) adalah sinyal risiko struktural jangka panjang (Y4).
6.3.2 Implikasi Kebijakan
- Pentingnya Komunikasi Fiskal: Penelitian ini menyoroti bahwa di negara berkembang, komunikasi Menkeu dapat memiliki dampak yang sama besarnya dengan kebijakan moneter, terutama ketika terjadi keraguan terhadap kepemimpinan. Hal ini merekomendasikan pemerintah untuk berinvestasi dalam manajemen komunikasi krisis dan penggunaan sinyal kebijakan yang kredibel.
- Peringatan Risiko Stagnasi Sekuler: Temuan SVAR berfungsi sebagai peringatan dini bahwa Indonesia menghadapi risiko Stagnasi Sekuler yang disebabkan oleh faktor internal (kualitas kepemimpinan/kelembagaan), bukan hanya guncangan eksternal. Hal ini mengharuskan perencanaan fiskal untuk jangka panjang (10-20 tahun), tidak hanya fokus pada target pertumbuhan 1-2 tahun ke depan.
- Penggunaan IKM untuk Monitoring: IKM yang dikembangkan dapat diadopsi oleh otoritas fiskal dan moneter sebagai indikator leading kebijakan untuk memonitor tingkat kepercayaan pasar secara real-time, melengkapi Economic Policy Uncertainty Index yang lebih umum.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tidak akan diukur dari klaim pertumbuhan 6-8%, tetapi dari kecepatan dan efektivitasnya dalam memulihkan Kredibilitas Kebijakan yang hilang, yang merupakan satu-satunya penjamin Stabilitas Fiskal Indonesia.
