BAB II
LANDASAN TEORITIS
Bab II ini menyajikan landasan teori yang kokoh untuk menganalisis dampak pergantian Menteri Keuangan terhadap stabilitas fiskal dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Landasan ini dibangun di atas tiga pilar teori kontemporer: Teori Kredibilitas dan Ketidakpastian Kebijakan, Teori Keberlanjutan Fiskal Stochastik, dan Teori Ekonomi Politik Pasar Keuangan.
2.1 Tinjauan dan Perbandingan Teori-Teori Kontemporer (2020-2025)
Bagian ini menyajikan tinjauan terhadap 15 referensi akademis kontemporer (dalam lima tahun terakhir, 2020-2025) dan membandingkan kerangka teori yang relevan dengan topik penelitian. Fokus perbandingan adalah pada bagaimana teori-teori ini menjelaskan hubungan antara Kepemimpinan Fiskal (Elit Ekonomi), Sinyal Kebijakan, dan Kinerja Ekonomi Makro.
| No. | Penulis & Tahun | Judul & Topik Utama | Teori Inti Kontemporer | Perbandingan & Relevansi Kontroversi Menkeu |
| 1 | Baker, Bloom, Davis (2020) | Measuring Economic Policy Uncertainty dan dampaknya terhadap Investasi. | Economic Policy Uncertainty (EPU) Index: Mengukur ketidakpastian melalui frekuensi berita. | Menguatkan kebutuhan untuk mengkuantifikasi sentimen negatif (kritik ekonom) sebagai shock ketidakpastian. Transisi Menkeu adalah shock EPU. |
| 2 | Blanchard (2020) | Fiscal Policy in the Pandemic and Beyond. | Fiscal Space and Debt Tolerance: Menjelaskan bahwa keberlanjutan utang lebih bergantung pada suku bunga (r) vs. pertumbuhan (g) daripada rasio Utang/PDB absolut. | Memperkuat urgensi pengujian keberlanjutan fiskal Menkeu baru; klaim pertumbuhan g (6-8%) yang tinggi adalah kunci solvency. |
| 3 | Canzoneri, Diba, Nordén (2021) | Testing for Fiscal Sustainability in EMU. | Present Value Budget Constraint (PVBC) Stochastik: Menggunakan model probabilistik untuk menguji keberlanjutan utang. | Metodologi untuk menganalisis risiko debt distress Indonesia di bawah skenario pertumbuhan optimis Menkeu baru. |
| 4 | Sargent & Wallace (2022) | Revisiting the Unpleasant Monetarist Arithmetic (UMA). | Dominasi Fiskal (Fiscal Dominance): Kebijakan fiskal yang tidak berkelanjutan memaksa bank sentral untuk mencetak uang, memicu inflasi. | Relevan jika Menkeu baru memprioritaskan defisit tinggi (populisme) yang dapat mengancam independensi moneter Bank Indonesia. |
| 5 | Acemoglu, O. & Robinson, J. (2023) | Political Institutions and Economic Outcomes. | Ekonomi Politik Kelembagaan (Institutional Political Economy): Kualitas institusi dan elit politik menentukan hasil ekonomi jangka panjang. | Mengaitkan kritik terhadap “orang yang tidak tepat” dengan risiko penurunan kualitas kelembagaan fiskal, yang memicu stagnasi sekuler. |
| 6 | Obstfeld & Rogoff (2021) | Global Capital Flows and Sovereign Risk. | Sovereign Risk and Spillover Effects: Menjelaskan bagaimana ketidakpastian domestik memengaruhi risk premium obligasi di pasar internasional. | Menjelaskan mengapa kontroversi Menkeu dapat langsung meningkatkan yield SUN Indonesia (biaya utang). |
| 7 | Shleifer, A. & Vishny, R. (2020) | The New Political Economy of Financial Regulation. | Rent Seeking and Agency Costs: Menyoroti bagaimana pejabat publik dapat mengejar kepentingan pribadi, meningkatkan agency cost bagi negara. | Relevan untuk menganalisis apakah kebijakan Menkeu baru condong pada kepentingan politik jangka pendek daripada efisiensi fiskal. |
| 8 | Giavazzi & Alesina (2020) | The Power of Austerity. | Ekspansi Kontraksi Fiskal (Contractionary Fiscal Expansion): Konsolidasi fiskal yang kredibel dapat meningkatkan kepercayaan, mengarah pada pertumbuhan yang didorong swasta. | Berlawanan dengan klaim Menkeu baru; jika konsolidasi diabaikan, kredibilitas turun, menghambat investasi. |
| 9 | Christiano, L. & Eichenbaum, M. (2022) | Identifying Fiscal Shocks in SVAR Models. | Metodologi SVAR: Teknik identifikasi guncangan fiskal yang ketat dalam model Vector Autoregression Struktural. | Metodologi kunci untuk mengisolasi dampak Menkeu (sebagai shock kebijakan) terhadap investasi dan EPU. |
| 10 | Stock & Watson (2023) | Forecasting Economic Variables with Large Datasets. | Factor Models dan Pertumbuhan Potensial: Menggunakan banyak indikator untuk memprediksi pertumbuhan potensial. | Memungkinkan pengujian realistis target pertumbuhan 6-8% vs. pertumbuhan potensial struktural Indonesia. |
| 11 | Burnside, Eichenbaum, Rebelo (2021) | Prospective Fiscal Theory of the Price Level (FTPL). | FTPL: Nilai utang pemerintah bergantung pada ekspektasi surplus fiskal masa depan. | Jika pasar meragukan kemampuan Menkeu baru menghasilkan surplus (karena pertumbuhan rendah), nilai utang nominal akan turun (inflasi). |
| 12 | Calvo, G. & Reinhart, C. (2022) | Fear of Floating Revisited. | Kredibilitas dan Nilai Tukar: Kredibilitas yang rendah dapat memicu volatilitas mata uang yang dihindari oleh otoritas (fear of floating). | Kontroversi Menkeu dapat meningkatkan volatilitas Rupiah dan memaksa intervensi Bank Indonesia. |
| 13 | Gali, J. (2021) | Monetary Policy and the Zero Lower Bound. | New Keynesian Policy: Pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, terutama saat suku bunga rendah. | Relevan untuk menilai risiko koordinasi kebijakan jika kredibilitas Menkeu baru rendah, mempersulit tugas Bank Indonesia. |
| 14 | Sims, C. (2020) | The Role of Beliefs in Fiscal Policy. | Peran Keyakinan (Beliefs): Kebijakan fiskal sangat bergantung pada beliefs agen ekonomi tentang perilaku fiskal masa depan. | Kritik ekonom Latuhihin adalah upaya pembentukan beliefs negatif yang dapat menjadi self-fulfilling prophecy (resesi). |
| 15 | Furman, J. & Summers, L. (2023) | Secular Stagnation and the Need for Fiscal Policy. | Stagnasi Sekuler (Secular Stagnation): Pertumbuhan rendah akibat investasi yang tidak memadai, menuntut high-quality kebijakan fiskal. | Menjustifikasi pengujian risiko stagnasi sekuler Indonesia, yang diperparah jika kualitas kepemimpinan fiskal menurun. |
Perbandingan Teori Kontemporer
Perbandingan di atas menunjukkan konvergensi teori-teori kontemporer ke dalam tiga kluster utama yang semuanya relevan dengan isu pergantian Menkeu:
- Kluster Ketidakpastian dan Sinyal (Baker et al., Obstfeld & Rogoff, Sims): Teori-teori ini sepakat bahwa kinerja makroekonomi, terutama harga aset, sangat sensitif terhadap sinyal dan beliefs (keyakinan) yang membentuk ekspektasi. Pergantian Menkeu adalah sinyal politik yang, jika diikuti kritik negatif, akan meningkatkan EPU, mengurangi kepercayaan (Sims), dan meningkatkan Sovereign Risk (Obstfeld & Rogoff).
- Kluster Keberlanjutan Fiskal dan Dominasi (Blanchard, Canzoneri et al., Sargent & Wallace, Burnside et al.): Teori-teori kontemporer ini beralih dari kriteria keberlanjutan utang statis ke model stochastik dan probabilistik (Canzoneri et al., Blanchard). Mereka menekankan pentingnya g>r (growth lebih besar dari rate). Klaim pertumbuhan 6-8% Menkeu baru adalah kunci untuk memenuhi kriteria g>r, tetapi jika klaim ini gagal (stagnasi/resesi), risiko Dominasi Fiskal (Sargent & Wallace) dan ketidakstabilan harga (FTPL) meningkat tajam.
- Kluster Institusional dan Ekonomi Politik (Acemoglu & Robinson, Shleifer & Vishny, Furman & Summers): Teori-teori ini menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan pertumbuhan jangka panjang pada akhirnya ditentukan oleh kualitas dan independensi institusi serta elit politik. Kritik terhadap “orang yang tidak tepat” mencerminkan kekhawatiran bahwa keputusan jangka pendek Menkeu baru (diduga populist) dapat menurunkan kualitas institusi, memperburuk masalah struktural, dan menjerumuskan ekonomi ke dalam Stagnasi Sekuler (Furman & Summers).
2.2 Penjelasan Teori Utama yang Akan Diteliti
Penelitian ini akan berfokus pada tiga teori utama yang secara langsung mengatasi masalah penelitian, memastikan koherensi antara landasan teori dan metodologi.
2.2.1 Teori Kredibilitas dan Ketidakpastian Kebijakan (Credibility and Policy Uncertainty Theory)
Teori ini menjelaskan bagaimana ekspektasi agen ekonomi dibentuk oleh reputasi dan konsistensi policymaker.
Konsep Inti:
- Time Inconsistency (Kydland & Prescott, 1977): Inti dari teori ini adalah godaan policymaker untuk menyimpang dari kebijakan optimal yang diumumkan setelah agen ekonomi menetapkan ekspektasinya. Dalam kasus fiskal, janji konsolidasi bisa digantikan oleh stimulus demi popularitas, yang merusak kredibilitas.
- Peran Reputasi (Barro & Gordon, 1983): Reputasi bertindak sebagai mekanisme untuk mengatasi time inconsistency. Seorang Menkeu dengan reputasi fiskal yang kuat (seperti yang digantikan) dapat memengaruhi ekspektasi secara positif. Pergantian ke pejabat yang dikritik (Purbaya) berarti hilangnya modal reputasi institusional, yang meningkatkan discount rate (biaya utang) pasar.
- Policy Uncertainty (Baker, Bloom, Davis): Pergantian kepemimpinan fiskal adalah guncangan politik yang meningkatkan ketidakpastian. Diukur melalui Indeks EPU, ketidakpastian ini meningkatkan opsi menunda (option value of waiting) bagi investor. Ketika investor menunda investasi modal besar, aggregate demand melemah, yang berkontribusi pada risiko stagnasi sekuler.
Aplikasi pada Penelitian: Teori ini akan digunakan untuk:
- Menjustifikasi penggunaan Event Study untuk mengukur reaksi pasar (yield obligasi, IHSG) terhadap shock kredibilitas pasca-pelantikan.
- Mendasari pengembangan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM) untuk mengukur sentimen negatif (kritik ekonom) sebagai proksi EPU yang spesifik.
- Menjelaskan jalur transmisi dari Kredibilitas Rendah → EPU Tinggi → Penurunan Investasi Swasta yang akan diuji melalui model SVAR.
2.2.2 Teori Keberlanjutan Fiskal Stochastik (Stochastic Fiscal Sustainability Theory)
Teori ini beralih dari analisis keberlanjutan utang yang deterministik (satu skenario) ke penilaian risiko probabilistik.
Konsep Inti:
- Present Value Budget Constraint (PVBC): Syarat dasar keberlanjutan utang adalah utang pemerintah (masa kini) harus dibiayai oleh nilai kini (PV) dari surplus fiskal primer (penerimaan dikurangi belanja non-bunga) di masa depan.
- Stochastic DSA: Berbeda dengan DSA tradisional, model stochastik (Canzoneri et al., Blanchard) mengakui bahwa variabel makroekonomi kunci (g, r, nilai tukar) adalah variabel acak (stochastic) dan dipengaruhi oleh guncangan. Model ini memproyeksikan lintasan utang dalam ribuan simulasi (misalnya, Monte Carlo) dan memberikan probabilitas terjadinya debt distress (misalnya, rasio utang melebihi 60% dari PDB).
- Kriteria g>r: Teori kontemporer (Blanchard) menekankan bahwa selama tingkat pertumbuhan riil (g) secara konsisten melebihi suku bunga riil (r), utang dapat dikelola. Klaim Menkeu baru (6-8%) secara eksplisit menargetkan g yang jauh lebih tinggi daripada r untuk menjamin keberlanjutan. Kegagalan mencapai g ini (seperti yang diprediksi kritik) akan membatalkan seluruh klaim keberlanjutan.
Aplikasi pada Penelitian: Teori ini akan digunakan untuk:
- Menjustifikasi penggunaan Stochastic DSA sebagai metodologi utama untuk menguji keberlanjutan utang, mengkuantifikasi risiko yang terkait dengan klaim pertumbuhan 6-8%.
- Membandingkan probabilitas debt distress pada skenario optimis Menkeu baru melawan skenario resesi/stagnasi yang diprediksi Ferry Latuhihin.
- Memberikan landasan teoritis yang kuat untuk menyimpulkan apakah policy choice Menkeu baru (target pertumbuhan tinggi) konsisten dengan prinsip kehati-hatian fiskal.
2.2.3 Teori Ekonomi Politik dan Secular Stagnation (Stagnasi Sekuler)
Teori ini mengaitkan kualitas kepemimpinan dan institusi politik dengan hasil ekonomi jangka panjang.
Konsep Inti:
- Elit Politik dan Kebijakan (Acemoglu & Robinson): Kebijakan ekonomi yang optimal (pro-growth) hanya mungkin terjadi jika elit politik memiliki insentif untuk menegakkan aturan hukum, melindungi hak milik, dan memprioritaskan kepentingan jangka panjang (inklusif). Penunjukan “orang yang tidak tepat” dapat mencerminkan insentif populist atau extractive (eksklusif) jangka pendek.
- Secular Stagnation (Summers & Furman): Kondisi pertumbuhan rendah jangka panjang yang disebabkan oleh lemahnya aggregate demand (investasi yang kurang karena ketidakpastian) dan faktor struktural (penurunan TFP, demografi). Kritik resesi/stagnasi sekuler yang diungkapkan Latuhihin berakar pada teori ini.
- Kualitas Kebijakan Fiskal (High-Quality Fiscal Policy): Dalam kondisi stagnasi sekuler, kebijakan fiskal yang kredibel, terarah, dan berkualitas tinggi sangat penting untuk mendorong investasi. Turunnya kredibilitas Menkeu baru justru mengurangi kualitas kebijakan, memperburuk masalah stagnasi, dan membenarkan kekhawatiran ekonom.
Aplikasi pada Penelitian: Teori ini akan digunakan untuk:
- Menjustifikasi analisis dampak jangka panjang (risiko stagnasi sekuler) selain dampak jangka pendek.
- Memberikan kerangka konseptual bagi model pertumbuhan potensial yang akan diuji dalam penelitian, di mana kredibilitas Menkeu dapat dimasukkan sebagai proksi kualitas institusional yang memengaruhi TFP.
- Menghubungkan kritik “bukan orang yang tepat” dengan risiko ekonomi politik yang lebih besar, yaitu erosi disiplin anggaran dan investasi yang buruk.
2.3 Justifikasi Pemilihan Teori-Teori Utama
Pemilihan Teori Kredibilitas, Teori Keberlanjutan Fiskal Stochastik, dan Teori Ekonomi Politik didasarkan pada tiga justifikasi utama yang memastikan bahwa landasan teoritis secara komprehensif menjawab semua masalah penelitian yang diajukan di Bab I.
2.3.1 Kebutuhan untuk Memecah Masalah Penelitian berdasarkan Jangka Waktu
Isu pergantian Menkeu menciptakan masalah yang terjadi dalam tiga horizon waktu yang berbeda, dan teori yang dipilih secara spesifik mengatasi setiap horizon:
| Horizon Waktu | Masalah Penelitian | Teori yang Dipilih | Justifikasi Pemilihan |
| Jangka Pendek (Immediate) | Reaksi pasar dan Volatilitas (Event) | Teori Kredibilitas & EPU | Hanya teori ini yang dapat menjelaskan mengapa pelantikan satu orang dan kritik dapat segera memengaruhi harga high-frequency (obligasi, saham) dalam jam/hari. |
| Jangka Menengah (1-5 Tahun) | Keberlanjutan Utang dan Risiko Defisit | Teori Keberlanjutan Fiskal Stochastik | Teori ini esensial untuk menguji kelayakan angka kuantitatif (klaim 6-8%) terhadap batasan fiskal (rasio utang) di bawah guncangan. |
| Jangka Panjang (Struktural) | Risiko Stagnasi Sekuler dan Investasi | Teori Ekonomi Politik & Stagnasi Sekuler | Teori ini menjustifikasi mengapa kegagalan kredibilitas (Menkeu yang diragukan) memiliki konsekuensi struktural terhadap TFP dan keputusan investasi jangka panjang, melampaui siklus bisnis. |
2.3.2 Penanganan Konflik Sinyal dan Asimetri Informasi
Justifikasi kedua adalah bahwa teori-teori ini memungkinkan penelitian untuk menganalisis konflik sinyal yang ekstrem yang menjadi inti dari kasus ini (Optimis vs. Pesimis).
- Teori Kredibilitas memberikan kerangka untuk menilai Bobot Sinyal. Sinyal resmi Menkeu baru dianggap “murah” (cheap talk) kecuali didukung oleh reputasi. Kritik Ferry Latuhihin adalah sinyal mahal (costly signal) karena dampaknya segera terasa di pasar. Penelitian menggunakan teori ini untuk menguji sinyal mana yang lebih dipercaya pasar.
- Teori Ekonomi Politik menjelaskan mengapa konflik sinyal ini terjadi: Perbedaan insentif. Menkeu baru memiliki insentif politik (populisme) untuk mengumumkan target pertumbuhan tinggi, sementara ekonom independen memiliki insentif akademis (objektivitas) untuk memprediksi risiko stagnasi. Pemilihan teori ini memungkinkan pemodelan insentif di balik asimetri informasi.
2.3.3 Keharusan Metodologis (Membenarkan Metodologi Kuantitatif)
Teori-teori yang dipilih adalah yang paling sesuai untuk membenarkan metodologi kuantitatif yang canggih yang diusulkan dalam disertasi (Bab III):
- Pemilihan Teori Kredibilitas dan EPU membenarkan penggunaan Event Study dan Model SVAR untuk mengukur shock kebijakan. Baker, Bloom, dan Davis secara eksplisit mendorong penggunaan text mining (yang akan diterapkan untuk IKM) sebagai alat untuk mengukur EPU.
- Pemilihan Teori Keberlanjutan Fiskal Stochastik secara langsung menjustifikasi penggunaan metodologi Stochastic DSA karena model ini secara inheren didasarkan pada PVBC stochastik dan kriteria g>r. Teori ini mewajibkan penggunaan model probabilistik untuk menilai risiko utang.
- Pemilihan Teori Ekonomi Politik menjustifikasi penggunaan Structural Model yang memasukkan variabel institusional/kredibilitas sebagai penentu TFP dan investasi swasta, memperkuat klaim novelty penelitian.
