Contoh Disertasi Keuangan Bab IV

BAB IV

HASIL PENELITIAN (HIPOTETIS)

Bab IV menyajikan hasil analisis data kuantitatif yang dilakukan untuk menguji hipotesis dan menjawab rumusan masalah mengenai dampak pelantikan Menteri Keuangan (Menkeu) baru terhadap stabilitas fiskal dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hasil disajikan berdasarkan tiga set variabel utama: Event Study, Stochastic DSA, dan Model SVAR.

4.1 Deskripsi Responden dan Pengumpulan Data Kualitatif Pendukung

Meskipun penelitian ini berfokus pada data kuantitatif ekonometri, sebagian data (khususnya untuk pembentukan Indeks Kredibilitas Menkeu/IKM dan Justifikasi Sign Restriction SVAR) melibatkan pengumpulan data kualitatif dan survei persepsi terbatas pada kelompok ahli.

4.1.1 Hasil Demografi Responden Ahli (Simulasi)

Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner singkat kepada kelompok responden ahli (expert respondents) yang perannya adalah memberikan input untuk validitas IKM dan restriksi SVAR. Responden dikelompokkan sebagai berikut:

Kategori AhliJumlah (N=30)Proporsi (%)Rata-rata Pengalaman (Tahun)Fokus Expertise Utama
Ekonom Akademis Senior1033.3%22.5Teori Makro & Fiskal
Analis Sekuritas & Fund Manager1240.0%15.8Pasar Keuangan & Sovereign Risk
Mantan Pejabat Fiskal/Moneter826.7%27.1Kredibilitas & Tata Kelola
Total30100%20.8

Sebagian besar responden memiliki pengalaman di atas 15 tahun, mengindikasikan bahwa data persepsi yang dikumpulkan memiliki dasar kredibilitas dan keahlian yang kuat di bidang ekonomi fiskal dan pasar.

4.1.2 Cara Responden Mengisi Kuesioner (Simulasi)

Kuesioner/Wawancara Terstruktur (Durasi 45-60 menit) dilakukan secara daring (melalui platform video konferensi) pada periode 1 bulan setelah pelantikan Menkeu (Oktober 2025).

  1. Format Rating (Likert Scale): Responden diminta menilai 10 pernyataan kunci (terkait klaim 6-8%, kritik stagnasi, dan reputasi Menkeu baru) pada skala 1 (Sangat Tidak Setuju/Kredibel) hingga 5 (Sangat Setuju/Kredibel). Hasil rating ini digunakan sebagai bobot awal dalam algoritma IKM.
  2. Pertanyaan Open-Ended: Responden diminta untuk menjustifikasi rating mereka dan memberikan pandangan mereka mengenai mekanisme transmisi guncangan kepemimpinan Menkeu ke investasi riil. Justifikasi ini sangat penting untuk menetapkan restriksi tanda (sign restrictions) yang akan digunakan dalam pemodelan SVAR. Misalnya, sebagian besar responden mengonfirmasi bahwa shock kredibilitas negatif harus memiliki dampak langsung negatif terhadap Investasi dan positif terhadap yield obligasi.
  3. Pengisian Daring dan Anonimitas: Untuk memastikan objektivitas, semua kuesioner diisi secara daring dengan jaminan anonimitas total untuk mendorong kejujuran, terutama dari mantan pejabat dan fund manager yang sensitif terhadap sentimen pasar.

4.2 Hasil Uji Statistik: Event Study (Pengujian Hipotesis H1)

Hipotesis H1: Pergantian Menkeu pada September 2025 secara signifikan dan negatif memengaruhi ekspektasi pasar, ditunjukkan oleh peningkatan yield obligasi pemerintah Indonesia dalam jangka pendek.

4.2.1 Uji Signifikansi Anomalous Return (Simulasi)

Event Study dilakukan pada yield Obligasi Pemerintah (SUN 10-Tahun) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan tanggal event (T=0) pada 8 September 2025.

VariabelJendela Peristiwa (T)Abnormal Return Rata-rata (AAR)Cumulative Abnormal Return (CAR)Uji-t (Signifikansi)Keterangan Hasil
Yield SUN 10-Tahun[-3, +3] Hari+12.5 basis poin+35.2 basis poin4.12 (p < 0.01)Signifikan Negatif
IHSG[-3, +3] Hari-0.45%-1.89%-2.85 (p < 0.05)Signifikan Negatif

Penjelasan Hasil: Hasil pengujian t menunjukkan bahwa CAR pada yield SUN 10-Tahun adalah signifikan positif (peningkatan yield sebesar 35.2 basis poin) pada jendela [-3, +3] hari dari pelantikan. Peningkatan yield ini mengindikasikan penurunan harga obligasi, yang secara ekonomi ditafsirkan sebagai peningkatan risk premium yang dituntut oleh investor. Ini membuktikan bahwa pasar secara kolektif merespons transisi Menkeu secara negatif, membenarkan kekhawatiran yang disampaikan oleh ekonom (Ferry Latuhihin) dan secara statistik mendukung Hipotesis H1. Reaksi negatif ini menunjukkan pasar mendiskon klaim pertumbuhan optimis Menkeu baru.

4.3 Hasil Uji Statistik: Stochastic DSA (Pengujian Hipotesis H2)

Hipotesis H2: Terdapat korelasi negatif antara tingkat ketidakpastian kebijakan fiskal pasca-pergantian Menkeu dengan proyeksi pertumbuhan PDB riil Indonesia dalam periode dua tahun berikutnya.

4.3.1 Perbandingan Probabilitas Risiko Utang (Simulasi)

Dilakukan 10.000 simulasi Monte Carlo selama periode proyeksi 10 tahun (2026-2035) dengan membandingkan tiga skenario pertumbuhan PDB Rata-rata:

Skenario PertumbuhanPertumbuhan PDB Rata-rata (g)Probabilitas Rasio Utang > 60% PDBProbabilitas Primary Balance Negatif > 5 TahunKeterangan Hasil
A: Klaim Menkeu Baru7.0% (Rata-rata 2026-2035)0.8%5.1%Berkelanjutan Tinggi
B: Baseline Konservatif5.0% (Rata-rata 2026-2035)15.4%22.3%Berkelanjutan Menengah
C: Risiko Stagnasi Sekuler3.5% (Rata-rata 2026-2035)48.7%78.9%Rentan/Tidak Berkelanjutan

Penjelasan Hasil: Hasil DSA menunjukkan bahwa keberlanjutan fiskal sangat sensitif terhadap asumsi pertumbuhan. Jika klaim Menkeu baru (7.0%) tercapai (Skenario A), probabilitas debt distress (Utang > 60% PDB) sangat rendah (0.8%). Namun, jika kekhawatiran ekonom Latuhihin (stagnasi/pertumbuhan rendah) menjadi kenyataan (Skenario C), probabilitas debt distress melonjak menjadi hampir 50%, menunjukkan sistem fiskal menjadi sangat rentan.

Hubungan Variabel: Hubungan antara Growth Target (Variabel X2) dan Probabilitas Debt Distress (Variabel Y4) menunjukkan korelasi negatif yang kuat (r=−0.91). Hal ini mempertegas bahwa, secara teoritis, tingkat ketidakpastian kebijakan fiskal (yang akan memicu pertumbuhan rendah) berkorelasi negatif dengan keberlanjutan fiskal. Hipotesis H2 secara tidak langsung didukung karena hasil DSA menunjukkan bahwa ketidakmampuan mencapai target tinggi Menkeu baru (yang diyakini pasar karena ketidakpastian) akan mengakibatkan ketidakberlanjutan fiskal yang tinggi.

4.4 Hasil Uji Statistik: Structural VAR (Pengujian Hipotesis H3)

Hipotesis H3: Penurunan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM) secara signifikan dan negatif memengaruhi Investasi Swasta Riil, dengan transmisi yang dimoderasi oleh Indeks Ketidakpastian Kebijakan (EPU).

4.4.1 Pembentukan Indeks Kredibilitas Menkeu (IKM)

IKM dibangun menggunakan analisis sentimen pada 12.000 artikel berita selama periode pra- dan pasca-pelantikan. IKM diukur pada skala -1 (Sentimen Sangat Negatif) hingga +1 (Sangat Positif).

PeriodeSentimen Rata-rata IKMPerubahan SentimenKeterangan
Pra-Pelantikan (T-120 hingga T-1)+0.45N/AMencerminkan stabilitas fiskal sebelumnya.
Pasca-Pelantikan (T=0 hingga T+60)-0.12-0.57Penurunan tajam sentimen/kredibilitas karena kontroversi.

4.4.2 Impulse Response Function (IRF) SVAR (Simulasi)

Model SVAR menguji respons Investasi Swasta Riil (Y5) dan EPU (Y6) terhadap shock negatif dari IKM (X3).

Respon Terhadap 1-S.D. Shock IKM NegatifRespon EPU Index (Y6) (Puncak)Respon Investasi Swasta (Y5) (Puncak)Waktu Respon Puncak (Kuartal)
Guncangan Kredibilitas+0.85 Standar Deviasi-1.5% dari Tingkat Awal3 Kuartal

Penjelasan Hasil:

  • Transmisi Ketidakpastian: Shock negatif terhadap IKM (penurunan kredibilitas) menyebabkan peningkatan signifikan pada EPU Index (Y6) yang mencapai puncaknya dalam 2-3 kuartal. Hal ini membuktikan bahwa kontroversi Menkeu ditransmisikan ke perekonomian sebagai peningkatan ketidakpastian kebijakan.
  • Dampak Sektor Riil: Peningkatan EPU diikuti oleh penurunan Investasi Swasta Riil (Y5), mencapai penurunan kumulatif 1.5% di bawah baseline setelah 3 kuartal. Penundaan investasi ini konsisten dengan teori option value of waiting di tengah ketidakpastian yang tinggi.

Hubungan Variabel: Hubungan antara Shock IKM Negatif (X3) dan Investasi Swasta Riil (Y5) menunjukkan korelasi negatif yang kuat dalam jangka menengah. Ini secara langsung mendukung Hipotesis H3, menegaskan bahwa ketidakpastian yang disebabkan oleh kritik terhadap Menkeu baru berpotensi memicu perlambatan investasi yang dapat mengarah pada risiko stagnasi sekuler.

4.5 Penjelasan Hubungan Semua Variabel (Integrasi Temuan)

Hubungan antara semua variabel utama dalam penelitian ini dapat diintegrasikan dalam model kausal sebagai berikut:

  1. Guncangan Kepemimpinan Reaksi Pasar (Jangka Pendek):
    1. Pelantikan Menkeu (X1) memicu shock negatif IKM (X3) karena kritik.
    1. Shock IKM negatif → Kenaikan Yield SUN (Y2) dan Penurunan IHSG (Y1). Ini menunjukkan bahwa biaya utang negara segera meningkat akibat hilangnya kredibilitas.
  2. Kredibilitas Ketidakpastian Stagnasi (Jangka Menengah):
    1. IKM Negatif (X3) → Peningkatan EPU (Y6).
    1. Peningkatan EPU → Penurunan Investasi Swasta (Y5).
    1. Penurunan Investasi (Y5) → Penurunan Pertumbuhan PDB (g) di bawah target 6-8% (X2).
    1. Hubungan ini mengonfirmasi mekanisme transmisi risiko stagnasi sekuler yang dikhawatirkan Ferry Latuhihin.
  3. Pertumbuhan Rendah Ketidakberlanjutan Fiskal (Jangka Panjang):
    1. Penurunan Pertumbuhan PDB (g) (Akibat X3 → Y5) → Peningkatan Probabilitas Debt Distress (Y4).
    1. Analisis DSA secara ex-ante menunjukkan bahwa kegagalan mencapai X2 (target 6-8%) yang disebabkan oleh ketidakpastian (Y6) secara drastis meningkatkan risiko fiskal. Ini menunjukkan bahwa masalah kredibilitas jangka pendek memiliki konsekuensi fiskal jangka panjang yang besar.

Secara keseluruhan, hasilnya menunjukkan bahwa kredibilitas Menkeu berfungsi sebagai jangkar fiskal dan ekspektasi. Ketika jangkar ini dilepas (karena kritik dan kontroversi), pasar segera merespons negatif (H1), yang kemudian ditransmisikan sebagai ketidakpastian (H3) yang mengancam investasi dan pertumbuhan riil. Kegagalan pertumbuhan ini pada gilirannya secara fatal mengancam keberlanjutan fiskal (H2).

Scan the code